Metode Pembelajaran Membaca Dan Menghafal Al-Qur’an


Metode berasal dari bahasa Yunani (Greeca) yaitu “Metha” dan “Hados”, “Metha” berarti melalui/melewati, sedangkan “Hados” berarti jalan/cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.[1] Menghafal Al-Qur’an merupakan harta simpanan yang sangat berharga yang diperebutkan oleh oleh orang yang bersungguh-sungguh. Hal ini karena Al-Qur’an adalah kalam Allah yang bisa menjadi syafa’at bagi pembacanya kelak dihari kiamat. Menghafal Al-Qur’an untuk memperoleh keutamaan-keutamaannya memiliki berbagai cara yang beragam.

Metode atau cara sangat penting dalam mencapai keberhasilan menghafal, karena berhasil tidaknya suatu tujuan ditentukan oleh metode yang merupakan bagian integral dalam sistim pembelajaran. Lebih jauh lagi Peter R. Senn mengemukakan, “ metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistimatis.” [2]

Berikut ini secara terperinci metode membaca dan menghafal Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:

  1. Metode membaca Al-Qur’an

Dalam membaca Al-Qur’an  terhadap metode belajar yang sangat variatif karena belajar Al-Qur’an bukan sekedar mengenal huruf-huruf  Arab beserta (syakal) yang menyertainya, akan tetapi  juga mengenalkan segala aspek yang terkait  dengannya.  hal itu dikarenakan membaca  Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz memiliki  kaidah–kaidah tersendiri yang telah ada sejak diturunkan dengan demikian, Al-Qur’an dapat  dibaca  sebagaimana  mestinya,  yakni sesuai  dengan kaidah  atau aturan-aturan  yang  berlaku. Untuk  tujuan  tersebut,  maka diharapkan tersedianya  materi-materi  yang  dapat memenuhi  kebutuhan  itu,  yaitu materi  yang komperehensip yang mampu mewakili seluruh jumlah ayat yang  ada  dalam Al-Qur’an.  Sehingga  anak  didik  selesai  mempelajari materi-materi tersebut, maka dapat dipastikan bahwa anak didik dapat membaca seluruh ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Khusus dalam materi pembelajaran baca Al-Qur’an, secara umum dapat di kelompokkan ke dalam lima kelompok besar, yaitu (1) Pengenalan huruf  hijaiyyah  dan  makhrajnya,  (2)  Pemarkah  (Al-asykaal), (3) huruf-huruf bersambung, (4) tajwid dan bagiannya, (5) Ghraaib (bacaaan yang tidak sama dengan kaidah secara umum).

Menurut Samsul Ulum dalam pengajaran membaca Al-Qur’an terdapat beberapa metode yang dapat dilaksanakan dalam proses pengajaran membaca bagi pemula. Masing-masing  metode  tersebut  memiliki kelebihan dan kekurangan, metode tersebut antara lain yaitu:

  • Metode Harfiyah

Metode ini  disebut  juga  metode  hijaiyah atau alfabaiyah atau abajadiyah. Dalam pelaksanaanya, seorang guru mengajarkan pengajaran huruf hijaiyah satu persatu. Disini seorang murid membaca huruf dengan melihat teks/ huruf tertulis dalam buku. Selain itu, siswa membaca potongan-potongan kata.

  • Metode Shoutiyah

Metode ini terdapat kesamaan dengan metode harfiyah dalam hal tahapan yang  dilakukan,  yaitu  mengajarkan  potongan-potongan  kata atau kalimat namun dapat perbedaan yang menonjol yaitu:  dalam metode harfiyah seorang guru dituntut untuk menjelaskan nama, misalkan huruf shod, maka seorang guru harus memberitahukan bahwa huruf itu adalah shod, berbeda dengan shoutiyah, yaitu  seorang guru ketika berhadapan  dengan huruf  shod dia  mengajarkan bunyi yang disandang huruf tersebut yaitu sha, bukan mengajarkan hurufnya.

  • Metode Maqthaiyah

Metode ini merupakan metode yang dalam memulai mengajarkan membaca diawali dari potongan-potongan kata, kemudian dengan kata dilanjutkan dengan kata-kata uang ditulis dari potongan kata tersebut. Dalam mengajarkan membaca, harus  didahului dengan huruf-huruf yang mengandung mad. Mula-mula siswa dikenalkan alif , wawu, dan ya’, kemudian  di  kenalkan dengan  pada  kata  sepeti  saa, sii, suu, (terdapat bacaan mad), kemudian  dengan  potongan  kata  tersebut dirangkai dengan potongan kata yang lain, seperti saro, siirii, saari, siiroo, siisrii, dan seterusnya. Terkadang menggunakan metode ini lebih baik dari  metode  harfiyah  atau metode shoutiyah, karena metode maqthoiyah dimulai dari seperangkat potongan kata, bukan satu huruf atau satu suara.

  • Metode Kalimah

Kalimah berasal dari bahsa Arab yang yang berarti kata. Disebut metode kalimah karena  ketika siswa  belajar  membaca  mula-mula langsung dikenalkan dengan bentuk kata. Kemudian dilanjutkan dengan menganalisis huruf–huruf yang terdapat pada kata-kata  tersebut. Metode ini  kebalikan dengan metode  metode  harfiyah  dan metode shoutiyah yang mengawali dari huruf atau bunyi kemudian beralih kepada mengajarkan kata. Dalam  pelaksanaanya, seorang  guru menunjukkan sebuah kata dengan konsep yang sudah sesuai, kemudian pengajar  menggunakan kata  tersebut  nenerpa  kali  setelah itu diikuti siswa. Setelah itu guru menunjukkan yang siswanya  berupaya mengenalnya atau membacanya. Setelah siswa tesebut  mampu membaca kata, kemudian guru mengajak untuk menganalisis  huruf-huruf yang ada pada kata-kata tersebut.

  • Metode Jumlah

Kata jumlah berasal dari bahsa Arab berarti kalimat. Mengajarkan membaca dengan metode ini adalah dengan cara   seorang guru menunjukkan sebuah kalimat singkat pada sebuah kartu  dengan cara dituliskan dipapan tulis, kemudian guru mengucapkan  kalimat tersebut dan  setelah  itu  diulang  oleh  siswa  beberapa  kali.  Setelah itu, guru menambahkan satu kata pada kalimat tersebut lalu  membacanya dan ditirukan lagi oleh siswa, seperti: Dzahaba al-walad,  dzahaba al-walad. Kemudian dua kalimat tersebut  dibandingkan  agar siswa mengenal kata-kata yang sama dan kata yang tidak sama. Apabila siswa telah membandingkan, maka guru mengajak untuk menganalisis kata yang ada sehingga sampai pada huruf-hurufnya. Dari sinilah dapat diketahui bahwa metode jumlah dimulai dari kalimat, kemudian kata, sampai pada hurufnya.

  • Metode Jama’iyah

Jamaiyah berarti keseluruhan, metode jama’iyah berarti menggunakan metode yang telah ada, kemudian menggunakan sesuai dengan  kebutuhan karena  setiap  metode mempunyai  kelebihan  dan kelemahan. Karena itu, yang lebih tepat adalah menggunakan seluruh metode yang ada tanpa harus terpaku pada satu metode saja.

2. Metode Menghafal Al-Qur’an

Sebelum penulis menjelasakan tentang apa saja metode menghafal Al-Qur’an penulis ingin mejelaskan beberapa tata cara yang harus di penuhi dalam menghafal Al-Qur’an, antara lain:

  • Keinginan yang tulus dan niat yang kuat untuk menghafal Al-Qur’an
  • Pelajari aturan-aturan membaca Al-Qur’an di bawah bimbingan seorang guru yang mempelajari dan mengetahui dengan baik aturan aturan tersebut.
  • Terus bertekad memiliki keyakinan untuk menghafal Al-Qur’an setiap hari, yaitu dengan menjadikan hafalan sebagai wirid harian, dan hendakalah permulaanya bersifat sederhana mulai menghafal seperempat juz, kemudian seper delapan, dan seterusnya. Setelah itu memperluas hafalah, mungkin dengan menghafal dua seper delapan pada hari yang sama, di seratai memilih waktu yang sesuai untuk menghafal.
  • Mengulang hafalan yang telah dilakukan sebelum melanjutkan hafalan selanjutnya disertai dengan kesinambungan.
  • Niat dalam menghafal dan mendalalami selayakanya di niatkan demi mencari ridlo Alloh SWT bukan untuk tujuan dunia.
  • Mengerjakan apa yang ada dalam Al-Qur’an, baik urusan-urusan kecil maupun yang besar dalam kehidupan.
  • Ketika Allah SWT memberi petunjuk kepada kita untuk kita, maka kita wajib mengajarkannya kepada orang lain.[4]

Namun dengan memahami metode menghafal Al-Qur’an yang efektif, pasti kekurangan-kekurangan yang ada akan diatasi. Ada beberapa metode menghafal Al-Qur’an yang sering dilakukan oleh para penghafal, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Metode Wahdah, Yang dimaksud metode ini, yaitu menghafal satu persatu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalnya. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat dapat dibaca sebanyak sepuluh kali atau dua puluh kali atau lebih, sehingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangannya.
  • Metode Kitabah, Kitabah artinya menulis. Metode ini memberikan alternatif lain dari pada metode yang pertama. Pada metode ini penulis terlebih dahulu menulis ayat-ayat yang akan dihafalnya pada secarik kertas yang telah disediakan untuk dihafal. Kemudian ayat tersebut dibaca sampai lancar dan benar, kemudian dihafalkannya.
  • Metode Sima’i, Sima’i artinya mendengar. Yang dimaksud metode ini adalah mendengarkan sesuatu bacaan untuk dihafalkannya. Metode ini akan Sangat efektif bagi penghafal yang mempunyai daya ingat extra, terutama bagi penghafal yang tuna netra atau anak-anak yang masíh dibawah umur yang belum mengenal baca tulis Al-Qur’an. Cara ini bisa mendengar dari guru atau mendengar melalui kaset.
  • Metode Gabungan. Metode ini merupakan gabungan antara metode wahdah dan kitabah. Hanya saja kitabah disini lebih mempunyai fungsional sebagai uji coba terhadap ayat-ayat yang telah dihafalnya. Prakteknya yaitu setelah menghafal kemudian ayat yang telah dihafal ditulis, sehingga hafalan akan mudah diingat.
  • Metode Jama’, Cara ini dilakukan dengan kolektif, yakni ayat-ayat yang dihafal dibaca secara kolektif, atau bersama-sama, dipimpin oleh instruktur. Pertama si instruktur membacakan ayatnya kemudian siswa atau siswa menirukannya secara bersama-sama.[5]

Sedangkan menurut Sa’dulloh macam-macam metode menghafal adalah sebagai berikut:

  • Bi al-Nadzar, Yaitu membaca dengan cermat ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dihafal dengan melihat mushaf secara berulang-ulang.
  • Tahfidz, Yaitu menghafal sedikit demi sedikit Al-Qur’an yang telah dibaca secara berulang-ulang tersebut.
  • Talaqqi, Yaitu menyetorkan atau mendengarkan hafalan yang baru dihafal kepada seorang guru.
  • Takrir, Yaitu mengulang hafalan atau menyima’kan hafalan yang pernah dihafalkan/sudah disima’kan kepada guru.
  • Tasmi’, Yaitu mendengarkan hafalan kepada orang lain baik kepada perseorangan maupun kepada jamaah.[6]

Pada prinsipnya semua metode di atas baik semua untuk dijadikan pedoman menghafal Al-Qur’an, baik salah satu diantaranya, atau dipakai semua sebagai alternatif atau selingan dari mengerjakan suatu pekerjaan yang terkesan monoton, sehingga dengan demikian akan menghilangkan kejenuhan dalam proses menghafal Al-Qur’an.

[1] Zuhairini, Metodologi Pendidikan Agama, (Solo : Ramadhani, 1993), hal. 66

[2] Mujamil Qomar, Epistomologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Erlangga, 1995), hal. 20

[3] M.Samsul Ulum, Menangkap Cahaya Al-Qur’an, (Malang:UIN Malang Press, 2007), hal.82-85

[4] Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an…, hal. 96-98

[5] Ahsin Sakho Muhammad, Kiat-kiat Menghafal Al-Qur’an, (Jawa Barat : Badan Koordinasi TKQ-TPQ-TQA, t.t.), hal. 63-65

[6] Sa’dulloh, S. Q., 9 Cara Praktis Mengafal Al-Qur’an…, hal. 52-54

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s