DUA SISI


  • DUA SISI

 Setajam jarum tentu masih ada ujungnya yang tumpul dan setajam pisau akan ada sisi lain juga yang tumpul.Lantas apakah hanya yang lancip yang disebut jarum, atau yang tajam saja yang bisa disebut pisau?tentu tidak.Demikian juga dengan kehidupan ini,apakah hanya karena kita berbeda lantas menganggap orang lain lebih rendah dari kita,atau kita hanya terperanjat ketika melihat penampilan rupa saja,sedangkan yang terbungkus indah dalam hati tak pernah kita mengerti.

Banyak manusia tertipu dalam kehidupan ini salah satu faktornya adalah karena manusia janya melihat satu sisi saja sehingga sisi yang lain tidak terlihat. Padahal pada sisi yang lain itulah biasanya informasi lengkap dapat diungkap dan kemudian manusia baru bisa melihat secara utuh apa yang ada.

Lemahnya penglihatan yang hanya terfokus pada satu sisi ini bukan karena faktor kesengajaan, namun lantaran kurangnya pengetahuan, gelamor oleh penampilan sesaat, keingian yang mengebu dan dorongan duniawi yang lebih besar sehingga akal dikalahkan oleh nafsu.

Bocah pembeli es krim

 Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat yang serba wangi dan indah.

“Mbak sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.

“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih “berduit” ngantre di belakang pembeli ingusan itu.

“Kalau plain cream berapa?”

Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus”.

Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, ” Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak,” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.

Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.

Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat.

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s