Beda Bukan Berarti Tidak Layak


Saya pernah ditanya, semi di interogasi oleh Tuan Guru senior tentang konsep pesantren tanfidz yang mencetak calon hafidz dan hafidzoh tetapi keluar dari patron pendidikan konvension

al.Yang pertama ditanyakan, “Kenapa namanya LENTERAHATI, bukankah banyak nama Islami yang baik untuk pesantren?”.Kemudian saya jawab, afwan Tuan Guru. Bukankah semua nama Islami ketika diartikan dalam bahasa Indonesia juga sebutannya sama seperti membahasakan dalam bahasa Indonesia. Nama Lenterahati ini sama, kalau dk bahasa arabkan kan namanya daw’ alqalb ضوء القلب yaitu penerang hati (lentera artinya penerang). Boarding sama dengan asrama, atau pondok, islamic school artinya sekolah berbasis islam atau pesantren.Ini hanya masalah kontens marketing dan bahasa kekinian agar yang mondok tidak terkooptasi dengan image bahwa pondok pesantren itu menakutkan, penuh hukuman, penuh bully dan terkesan jorok dan gatelan.Maka image itu perlu dirubah, mulai ditanamkan dengan nama yang familier dengan kekinian agar santri merasa nyaman tidak takut duluan.Sang Tuan Guru kemudian bergumam, emmmhmm begitu ya.Tuan guru lebih senior di samping beliau kemudian bertanya dengan pertanyaan yang membuat bergerenyit alis mata.”Antum katanya lulusan luar negeri? Kok bisa dan berani mendirikan pesantren, pesantren itu harus tuan guru yang mengelola, lulusan pesantren atau paling tidak dulu bapak atau keturunannya adalah tuan guru atau yai, jika lulusan luar negeri yang jadi pengelola pesantren bisa jadi nanti pondok liberal?!” dengan nada beliau memberikan nasihat. Saya tak menyela pertanyaan itu, kemudian saya jawab.Benar tuan guru, saya sebenarnya bukan siapa-siapa. Dasar ilmu agama saya juga sangat terbatas, saya kuliah juga dari IAIN atau UIN. Saya murni psikolog dari S1-S3 dan bau-baunya memang ijazah luar negeri. Tetapi apakah bertakwa itu harus dari pesantren, memilki garis keturunan Tuan Guru atau yai.Afwan sekali tuan guru, di pondok sayang memang tidak mengajar kan santri atau para asatidz memanggil saya dengan Yai, Tuan Guru ataupun Ust, mereka saya minta memanggil dengan panggilan abah karena saya menyadari bahwa mondok saya yang hanya 6 tahun pun bukan lulusan Mekah, Medinah, Maroko atau Kairo tetapi paling tidak saya pernah mengenyam pendidikan di Pondok Karangasem Paciran Lamongan dan beberapa pondok lainnya. Selain itu saya tidak membanggakan kalau kakek saya juga seorang ulama besar dengan sebutan KH di Lamongan sana pun ayah almarhum juga demikian.Saya mengajarkan egaliter, karena belum tentu Tuan Guru, KH atau ust lebih pintar dari asatidz dan lebih hebat dari santrinya.Tuan guru senior itupun menyerahkan mic ke sebalah, kali ini tuan guru muda dan sudah bebetapa kali ke pesantren LENTERAHATI ISLAMIC BOARDING SCHOOLKemudian beliau memaparkan pengalamannya ke pesantren ke tuan guru lainnya, namun di ujung pemaparannya beliau pun bertanya beberapa hal dan semi menjustifikasi.Katanya: pertama, saya melihat dengan mata sendiri santri kemana-mana menenteng laptop, ada juga yang pegang HP. Antm seperti mengajar kan mereka liberal! Apa bisa mereka jadi hafidz kalau tiap hari mereka main laptop dan main HP.Kedua, saya sering mengikuti media sosial antm. Saya lihat antm sering memposting karya santri berupa video dan ada pentas juga. Kok seperti bukan pesantren. Sudah itu saja pertanyaan saya.Saya hati-hati menjawab.Begini tuan guru semuanya, saya memperbolehkan santri pegang laptop bukan untuk mainan, tetapi itu sarana belajar. Laptop digunakan tiap hari karena materinya serba online, namun kami ajarkan juga adab menggunakan internet secera bijak, demikian juga dengan HP. Projeck mereka kadang membutuhkan laptop dan HP android untuk mengerjakannya, seperti mencari bahan pembelajaran, diskusi bahkan project membuat video pendek tentang kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran umum dan pesantren.“Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu,” demikian pesan Khalifah Keempat Umat Islam, Ali Bin Abi Thalin. Pesan yang sungguh singkat dan mudah diingat.Akan tetapi, inilah tantangan besar yang benar-benar nyata bagi keluarga Muslim abad ini. Yakni, bagaimana mendidik anak sesuai zamannya. Dikatakan demikian karena di era kekinian berbagai macam konsep dan model pendidikan sungguh sangat variatif.Di sinilah banyak pesantren yang nampak kewalahan dalam menghadapi perilaku santri. Sebagian ada yang mengambil tindakan ekstrem dengan mengisolir santru dari perkembangan zaman, membawa HP disita, bahkan dirusak dengan alasan menganggu aktifitas belajar dan ngaji. Sebagian justru memberikan ruang gerak santri untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.Sebagai Muslim, tentu dua jenis respon tersebut sangat harus di saring dan dipergunakan sebahaimana mestinya. Islam itu tsawabit (tetap) tetapi sekaligus mutaghayyirat (fleksibel).Tsawabit dalam konteks aqidah, seperti yang disampaikan oleh Luqman Al-Hakim kepada anaknya agar tidak mempersekutukan Allah (QS. 31: 13).Mutaghayyirat dalam hal skill penting yang mesti dikuasai seorang anak. Hal ini tidak bisa berlaku sama persis secara praktik sebagaimana Nabi menjalankan pendidikan skill kepada anak-anak. Misalnya terhadap hadits yang mengatakan bahwa anak-anak perlu diajari skill memanah, berenang dan berkuda karena zaman sekarang sudah zaman multimedia dan Teknologi Informasi yang begitu cepat berkembangnya.Dalam konteks modern maka segala hal yang dianggap penting bagi kemajuan pribadi maupun kolektif umat, maka kami menganggap bahwa santri perlu didik smenguasai kesemua hal itu. Misalnya menguasai komputer, kimia, kedokteran, atau pun skill lainnya.Jadi, pengertian mendidik anak sesuai zamannya adalah mengarahkan anak-anak kita mampu survive dalam zaman dimana dia hidup, sehingga mampu menjadi insan yang mandiri dan kontributif bagi kemaslahatan umat.Sedangkan kenapa santri Lenterahati boleh membuat video dan tampil, karena secara psikologis saat otak kanan dan otak kiri imbang maka mereka saat belajar akan mudah dan menurut penelitian, keberhasilan masa depan seorang anak ditentukan oleh kecerdasan sosial dan emosionalnya juga kecerdasan intelektualnya.Maka bersepakat bahwa Lenterahati bukan hanya mencetak generasi yang siap masuk surga menggandeng orangtuanya. Tetapi siap mengapai masa depan yang gemilang untuk keluarga, umat, bangsa dan negara.Maka, pada pertemuan malam itu semua tuan guru lantas berdiri sambil berbisik. Bisakah salah satu ustdz atau ustdzah Lenterahati Ibs di kirim ke pondok pesantren beliau atau mereka mau mengirim asaridznya untuk magang di Lentera Hati IbsAlhamdulillah pertemuan malam itu saling mencerahkan semoga dalam pertemuan-pertemuan yang akan datang tukar ilmu terjadi bukan saling menyalahkan sistem pembelajaran pesantren.وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُAbah Muazar Habibi
Pengasuh Pondok Lenterahati Islamic Boarding

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s