ISTRI SERING BERKELUH KESAH, UBALAH PALANG PINTUMU


ISTRI SERING BERKELUH KESAH, UBALAH PALANG PINTUMU

Oleh : MA Muazar Habibi

Zaman sekarang, wanita banyak menggerutu dan berkeluh kesah tentang rumah tangga

nya tetapi tidak berani langsung membicarakan dengan suaminya.

Karena kecanggihan teknologi 4.0 dan kelentikan jempol tangannya, maka keluh kesah istri tentang rumah tangga ditulislah dan wall facebook dan media sosial yang lain.

Jika tidak langsung, maka biasanya sindiran-sindiran dari yang halus sampai upload foto tetangga seperti hidup yang ia inginkan.

Tak jarang ini menjadi awal mula retaknya sebuah keluarga.

MAKA JIKA ADA ISTRI YANG SUKA BERKELUH KESAH, PESAN IBRAHIM KEPADA ISMAIL. GANTILAH PALANG PINTUMU WAHAI SANG SUAMI.

Inilah carita keluh kesah istri dan pesan mengati palang pintu.

Sejak peristiwa perintah penyembelihan Nabi Ismail, beliau lebih banyak ditinggal ayahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail semakin dewasa, ia pun menikah dengan seorang wanita yang tinggal di sekitar sumur Zamzam. Tidak lama kemudian ibu Ismail, Hajar meninggal dunia.

Di kemudian hari Ibrahim datang setelah Ismail menikah untuk mengetahui kabarnya, namun dia tidak menemukan Ismail. Ibrahim bertanya tentang Ismail kepada istri Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Ismail menjawab,

نَحْنُ بِشَرٍّ ، نَحْنُ فِى ضِيقٍ وَشِدَّةٍ

“Kami mengalami banyak keburukan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat.” Istri Ismail mengadukan kehidupan yang dijalaninya bersama suaminya kepada Ibrahim. Ibrahim berkata,

فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِى عَلَيْهِ السَّلاَمَ ، وَقُولِى لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ

“Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah palang pintu rumahnya.”

Ketika Ismail datang dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya;

هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ

“Apakah ada orang yang datang kepadamu?”

Istrinya menjawab,

نَعَمْ ، جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا ، فَسَأَلَنَا عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ ، وَسَأَلَنِى كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِى جَهْدٍ وَشِدَّةٍ

“Ya. Tadi ada orang tua begini dan begitu keadaannya datang kepada kami dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan.”

Ismail bertanya,

فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَىْءٍ

“Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”

Istrinya menjawab,

نَعَمْ ، أَمَرَنِى أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلاَمَ ، وَيَقُولُ غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ

“Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah palang pintu rumahmu.”

Ismail berkata,

ذَاكِ أَبِى وَقَدْ أَمَرَنِى أَنْ أُفَارِقَكِ الْحَقِى بِأَهْلِكِ

“Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.

Kemudian Ismail menikah lagi dengan seorang wanita lain dari kalangan penduduk yang tinggal di sekitar itu lalu Ibrahim pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah. Setelah itu, Ibrahim datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak mendapatkan Ismail hingga akhirnya dia mendatangi istri Ismail lalu bertanya kepadanya tentang Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Ibrahim bertanya lagi, “Bagaimana keadaan kalian?”

Dia bertanya kepada istrinya Ismail tentang kehidupan dan keadaan hidup mereka. Istrinya menjawab,

نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ

“Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup.” Istri Ismail juga memuji Allah.

Ibrahim bertanya,

مَا طَعَامُكُمْ

“Apa makanan kalian?”
Istri Ismail menjawab,

اللَّحْمُ

“Daging.”
Ibrahim bertanya lagi,

فَمَا شَرَابُكُمْ

“Apa minuman kalian?
Istri Ismail menjawab,

الْمَاءُ

“Air.”
Maka Ibrahim berdoa,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِى اللَّحْمِ وَالْمَاءِ

“Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka.”

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ ، وَلَوْ كَانَ لَهُمْ دَعَا لَهُمْ فِيهِ » . قَالَ فَهُمَا لاَ يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلاَّ لَمْ يُوَافِقَاهُ .

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saat itu belum ada biji-bijian di Makkah dan seandainya ada tentu Ibrahim sudah mendoakannya.” Sabda beliau lagi, “Dan dari doa Ibrahim tentang daging dan air itulah, tidak ada seorang pun selain penduduk Makkah yang mengeluh bila yang mereka dapati hanya daging dan air.”

Ibrahim selanjutnya berkata,

فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِى عَلَيْهِ السَّلاَمَ ، وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ

“Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh palang pintu rumahnya.”

Ketika Ismail datang, dia berkata,

هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ

“Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab,

نَعَمْ أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ ، وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ ، فَسَأَلَنِى عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ ، فَسَأَلَنِى كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ .

“Ya. Tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kita dan istrinya memuji Ibrahim. Dia bertanya kepadaku tentang kamu, maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik.”

Ismail bertanya,

فَأَوْصَاكِ بِشَىْءٍ

“Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?”

Istrinya menjawab,

نَعَمْ ، هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ ، وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ

“Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan palang pintu rumahmu.”

Ismail berkata,

ذَاكِ أَبِى، وَأَنْتِ الْعَتَبَةُ ، أَمَرَنِى أَنْ أُمْسِكَكِ

“Dialah ayahku dan palang pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu.” Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka sampai waktu yang Allah kehendaki. (HR. Bukhari, no. 3364)

Pesan

Maka jika punya istri yang sering berkeluh kesah dengan kondisi rumah tangga (naudzubillah) baik secara lisan langsung atau melalui media sosial sudah ada ibroh dari Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail untuk menceraikan istri tersebut.

Kenapa? Karena jika istri tak dapat menjaga lisan dan hatinya untuk tidak berkeluh kesah, maka ada korelasi untuk tidak sabar dan bijak mendidik anak-anaknya kelak. Akibatnya tentu anak-anak tak bisa mandiri karena didik dengan cengeng dan lebay.

Semoga Allau menjaga para istri agar tidak mudah berkeluh kesah agar suami tak merubah palang pintu nya

Abah Muazar Habibi.
Pengasuh Pesantren Lenterahati Islamic Boarding School.

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s