Konsep Belajar Joyfull Learning di LENTERAHATI ISLAMIC BOARDING SCHOOL

Konsep Belajar Joyfull Learning di LENTERAHATI ISLAMIC BOARDING SCHOOL

Oleh : Abah Muazar Habibi

Dalam setiap pembelajaran semua guru memiliki kemampuan bagaimana membangkitkan minat belajar siswa dengan konsep belajar yang menyenangkan.

Karena itu menjadi sebuah budaya di Lenterahati Islamic Boarding School sehingga siswa bisa belajar dengan bahagia, tenang dan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dengan baik.

Joyfull Learning berasal dari kata joyfull yang berarti menyenangkan sedangkan learning adalah pemberlajaran. Dave Meier menyatakan bahwa belajar menyenangkan (joyfull learning)  adalah sistem pembelajaran yang berusaha untuk membangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh, dan terciptanya makna, pemahaman, nilai yang membahagiakan pada diri siswa.

Menurut Paulo Fraire, Joyfull Learning adalah pembelajaran yang di dalamnya tidak ada lagi tekanan, baik tekanan fisik maupun psikologis. Sebab, tekanan apa pun namanya hanya akan mengerdilkan pikiran siswa, sedangkan kebebasan apa pun wujudnya akan dapat mendorong terciptanya iklim pembelajaran (learning climate) yang kondusif.

Menurut bambang yulianto: Joyfull Learning yaitu membuat kelas jadi menyenangkan, jangan monoton.Sedangkan menurut yanu armanto; Joyfull Learning yaitu pendekatan yang dapat membuat siswa memiliki motivasi untuk terus mencari tahu, untuk terus belajar.

Maka joyfull learning adalah pendekatan yang digunakan oleh pengajar dalam hal ini adalah guru untuk membuat siswa lebih dapat menerima materi yang disampaikan yang dikarenakan suasana yang menyenangkan dan tanpa ketegangan dalam menciptakan rasa senang. Penciptaan rasa senang berkait dengan kondisi jiwa bukanlah proses pembelajaran tersebut menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Dan menyenangkan atau mengasyikkan dalam belajar dikelas bukan berarti menciptakan suasana huru-hara dalam belajar di kelas namun kegembiraan disini berarti bangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari) dan nilai yang membahagiakan siswa.  

Pembelajaran yang menyenangkan (Joyfull Learning) bukan semata-mata pembelajaran yang mengharuskan anak-anak untuk tertawa terbahak-bahak, melainkan sebuah pembelajaran yang di dalamnya terdapat kohesi yang kuat antara guru dan murid dalam suasana yang sama sekali tidak ada tekanan. Yang ada hanyalah jalinan komunikasi yang saling mendukung.[5]

Belajar sendiripun menurut para ahli berbeda-beda dalam mengemukakan definisinya. Namun, tampaknya ada semacam kesepakatan diantara mereka yang menyatakan bahwa perbuatan belajar mengandung perubahan dalam diri seseorang yang telah melakukan perbuatan belajar. Perbuatan tersebut bersifat internasional, positif, aktif dan efektif fungsional.

Sifat internalisasi berarti perubahan itu terjadi karena pengalaman atau praktik yang dilakukan pelajar dengan sengaja dan disadari, bukan kebetulan. Sifat positif berarti perubahan itu bermanfaat sesuai dengan harapan pelajar, disamping itu menghasilkan sesuatu yang ru yang lebih baik dibandingkan yang telah ada sebelumnya. Sifat aktif disini berarti perubahan yang membangun suasana yang mengembangjkan inisiatif dan tanggung jawab belajar siswa sehingga berkeinginan terus untuk belajar selama hidupnya dan tidak tergantung pada guru. Sifat efektif berarti perubahan yang memberikan pengaruh dan manfaat bagi pelajar. Adapun sifat fungsional berarti perubahan itu relatif tetap serta dapat direproduksikan atau dimanfaatkan setiap kali dibutuhkan.

Seperti halnya ungkapan yang dipromosikan oleh Mihaly Csikszentmihalyi ”Syarat bagi pembelajaran yang efektif adalah dengan menghadirkan lingkungan seperti masa kanak-kanak”. (bukan ”kekanak-kanakkan”)  melainkan yang mendukung dan menggembirakan (”bermain”). Dan lebih lanjutnya Csikszentmihalyi katakan ”Selama beberapa tahun pertama kehidupan, setiap anak adalah ”mesin belajar” kecil yang tidak kenal lelah mencoba lagi gerakan-gerakan baru, kata-kata baru, setiap hari. Perhatikanlah dengan saksama, pusatkanlah pada wajah seorang anak tatkala belajar ketrampilan baru. Apa yang mereka perhatikan adalah indikasi dari ”rasa senang”-nya. Dan setiap pembelajaran yang menyenangkan menambah kompleksitas perkembangan diri anak tersebut.



Categories: ARTIKEL, FORUM WALISANTRI, INFORMASI UMUM, SEKOLAH DASAR

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: