Apa Indikator Orangtua Berhasil?

Apa Indikator Orangtua Berhasil?

Banyak anggapan orangtua yang merasa bangga sekaligus oleh orang lain disebut berhasil, karena anak-anaknya menjadi dokter, pegawai bank, pegawai pajak, pejabat, perwira tinggi dan pengusaha sukses.

Ada pula orang tua yang merasa tidak sukses menjadi orang tua sekaligus oleh orang lain dikatakan tidak sukses, karena anak anaknya lulusan madrasah dan pesantren, kemudian setelah lulus ada yang jadi guru di PAUD, SD, SMP dan SMA, guru ngaji, imam masjid, penghafal al Quran, guru madrasah dan khotib jumat.

Bahkan sekarang indikator kesuksesan orangtua hanya dilihat dapat menyekolahkan anaknya dimana? Ketika sekolah di tempat favorit, sekolah yang prestesius, pesantren yang mewah dan PT Negeri ternama sedangkan yang hanya dapat menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta, pesantren biasa-biasa saja dan kuliah di PT swasta sudah dianggap dinanti setelah lulus tak akan dapat pekerjaan yang layak disebut sukses.

Di masyarakat kita, sepertinya keberhasilan orang tua lebih banyak diukur dengan kualifikasi dan jenis pendidikan, profesi, posisi dan kelas sosial yang identik dengan materi.

Sementara hal-hal yang transedental, attitude, ‘abid, adab dan akhlaq dan sejenisnya tidak dijadikan ukuran.

Bisa dipahami dan manusiawi jika ada orang tua yang merasa bangga sekaligus merasa dirinya sukses dan berhasil “menjadikan” anak anaknya menjadi “super top”. Namun perlu disadari, bahwa keberhasilan yg bersifat material – verbal tersebut hanya merupakan salah satu komponen. Bahkan keberhasilan jenis tersebut ada kalanya menjadi bumerang bagi orang tua. Lebih tragis lagi jika menjadi asbab terjadinya sebuah prahara keluarga.

Kita tentu ingat cerita seorang Profesor terkenal yang sangat sukses, bukunya best seller tak terhitung lagi dan anak-anaknya sukses kuliah di luar negeri dan bekerja di luar negeri dengan posisi dan jabatan yang prestesius, kemudian kedua orangtuanya sangat rindu saat mereka sakit. Tak satupun anak-anaknya yang dianggap sukses di luar negeri tak ada yang bisa pulang.

Kemudian dengan merenung panjang, ia bakar semua buku-buku karyanya yang menjadi rujukan menjadi orangtua sukses dan akhirnya ia mengajar majelis taklim agar orangtua membekali anak-anaknya dengan ilmu agama, adab dan akhlaq agar tidak menyesal di kemudian hari seperti ia berdua.

Di era sekarang ini antara kompetisi dan promosi sulit ditebak ujungnya. Salah dan benar tipis perbedaannya. Hak dan bathil terlihat sama sama baiknya. Halal dan haram sama sama merangsangnya.

Karw itu orang yang merasa benar justru jadi nara pidana, orang yang kaya mengaku banyak kurangnya sehingga terjerumus dalam jeruji penjara dan pemimpin yang lupa amanahnya akhirnya dicaci tiap saat bahkan diminta mundur dengan tidak hormat.

Era sekarang ini adalah era unpredectable dan banyak anomali. Sesuatu yanh rasional diaklamasikan menjadi irasional, begitu pula sebaliknya.

Menurut saya, orang tua disebut sukses dan berhasil manakala anak anaknya memiliki kualifikasi pendidikan tinggi dan bergengsi, memiliki profesi yang “wah”, memiliki jabatan tinggi dan memiliki strata sosial yang tinggi dibarengi dengan ketaatan terhadap agama, patuh pada orangtua dan kaidah sosial dan selamat tidak menjadi terdakwa dalam masalah pidana, dan yang terpenting adalah dari manapun lulusan anak-anak kelak, apapun profesi, jabatan dan seberapa kelayaan yang dimiliki ia mampu menjaga keluarga dan manfaat bagi sesama dan memiliki nilai syukur sampai akhir hayatnya.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Manusia paling beruntung itu adalah mereka yang nafasnya telah berhenti, namun pahalanya terus mengalir tiada henti. Mereka yang menggunakan ilmu dan hartanya untuk kemaslahatan orang banyak.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wassalam bersabda : ” Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan anak shalih yang selalu mendokan orang tuanya,” (HR. Muslim No.1631).

Atau, orang tua dikatakan sukses manakala anak anaknya mampu melampaui prestasinya baik yang berhubungan dengan masalah yang berkaitan dengan urusan dunia saja bahkan banyak orang tua tega memaksakan kehendak kepada anaknya untuk menentukan harus sekolah dimana karena ambisi pribadi orangtua hanya karena orangtua inggin dianggap sebagai orangtua yang berhasil menyekolahkan anaknya seperti harapan orangtua tanpa berfikir bagaimana kondisi kemampuan dan minat anaknya.

Ukuran keberhasilan akhirat kelak bukan diukur anak lulusan pesantren mana? Hafal berapa juz Al Quran dan dapat prestasi apa? Karena fenomena orangtua “memaksakan anaknya ikut pesantren hafidz, ternyata jika tidak diimbangi dengan keinginan anak dan kemampuan anak dalam menghafal akibatnya justru menyengsarakan anak dan ketika anak tak berhasil sesuai target maka orangtua menjadi marah dan anak juga akan stress.

Walapun salah satu syafaat bagi orangtua yang memiliki anak penghafal Qur’an adalah karunia besar di akhirat kelak.

Keutamaan menghafal Al Quran yang adalah disematkannya mahkota dan jubah karomah serta keridhaan Allah kepadanya. Hal itu sebagai bentuk penghormatan kepada penghafal Al Quran.

Berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda “Penghafal Al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian akan berkata, ‘Ya Tuhanku, berikan lah perhiasan (kepada orang yang membaca al-Quran’), kemudian orang itu dipakaikan mahkota karomah (kemuliaan). Sesudah itu Al-Quran memohon kembali, ‘Ya Tuhanku ridhailah dia’, kemudian Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, baca lah (Al-Quran) dan terus lah naik lah (ke surga). Lantas, derajatnya (di surga) pun terus bertambah. pada setiap ayat yang dibacanya untuk satu kebaikan.

Namun demikian, bukan berarti yang bukan lulusan pesantren penghafal Quran tidak bisa menjadikan ia anak yang sholeh dan sholeha karena yang menentukan anak sholeh dan sholeha adalah drajat keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Sehingga kita tak terjebak memaknai keberhasilan sebagai orangtua hanya dari sudut pandang yang persial semata.

Semoga manfaat.

Abah Muazar Habibi
Pengasuh Pesantren LENTERAHATI ISLAMIC BOARDING SCHOOL

Tinggalkan Balasan