ANJINGPUN MARAH! KETIKA RASULULLAH DIHINA!

ANJINGPUN MARAH! KETIKA RASULULLAH DIHINA!

Kalau kita jumpai manusia yang benar-benar menghina Nabi atau Rasul, maka sebenarnya derajat mereka lebih hina dari binatang. Mengapa demikian? karena binatang yang dianggap haram najis dan hina saja masih memiliki naluri kebenaran dan rasa takut yang tinggi kepada Allah Ta’ala, ketika ada manusia yang mulia derajatnya dihina, maka tak segan-segan binatang pun membelanya.

Suatu hari sang misionaris senior pergi ke upacara seorang pangeran Mongol untuk pertobatannya menjadi Kristen. Misionaris itu mulai dengan mengutuk dan menghina Nabi Muhammad ﷺ, secara kebetulan ditempat tersebut ada seekor anjing pemburu yang diikat.

Ketika misionaris Kristen ini mulai mengutuk Nabi ﷺ si anjing tiba-tiba menggonggong tanpa henti, dia berusaha melepaskan diri dari tali pengikatnya. Dan terlepaslah, lalu menerkamnya hingga misionasi terluka. Orang-orang berusaha menyelamatkannya dan menyingkirkan anjing itu.

Beberapa hadirin ada yang berkata: “Sepertinya ini karena apa yang dia katakan tentang Muhammad”

Misionaris menjawab: “Tidak, ini terjadi karena anjing itu melihat saya menunjuk ke arahnya, jadi dia pikir saya ingin memukulnya.”

Kemudian misionaris ini mulai kembali mengutuk Nabi ﷺ , kali ini dengan kalimat-kalimat yang lebih keji dari sebelumnya. Tanpa nyana, anjing ini kembali meronta dan berhasil lepas dari ikatannya dan melompat ke atas lehernya dan segera mencabik keluar tenggorokannya dan misionaris itu mati di tempat secara mengenaskan.

Setelah melihat kejadian ini, sekitar 40.000 Mongol kembali ke Islam!

Inilah seekor anjing yang marah saat Rasulullah ﷺ dihina dan menjadi sumber hidayah kembalinya 40.000 orang Mongol memeluk Islam.

Tidakkah kamu melihat bahwa anjing-anjing itu jauh lebih baik dari mereka yang mengusung kebebasan berpendapat yang dengan mudah menghina Agama Islam bahkan Allah dan RasulNya.

Itulah hakikatnya jika manusia dikatakan lebih rendah derajatnya karena pikiran dan otaknya lebih rendah dari binatang. Sungguh Allah Ta’ala akan isi neraka jahanam dengan mereka para musuh musuh agama dan penghina Nabi, sebagaimana Allah Ta’ala, berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ  ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ  ۚ أُولٰٓئِكَ كَالْأَنْعٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ  ۚ أُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُونَ

Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 179)

Yakni Kami sediakan mereka untuk isi neraka Jahannam, dan hanya amal ahli nerakalah yang dapat mereka kerjakan. Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala ketika hendak menciptakan mereka, Dia telah mengetahui apa yang bakal mereka amalkan sebelum kejadian mereka.

Mereka tidak memanfaatkan sesuatu pun dari indera-indera ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai sarana untuk mendapat hidayah.

Mereka yang tidak mau mendengar perkara yang hak, tidak mau menolongnya serta tidak mau melihat jalan hidayah adalah seperti binatang ternak yang terlepas bebas. Mereka tidak dapat memanfaatkan indera-indera tersebut kecuali hanya yang berkaitan dengan masalah keduniawian saja.

Karena itu, disebutkan bahwa barang siapa yang taat kepada Allah, maka dia lebih mulia daripada malaikat kelak di hari dia kembali ke alam akhirat. Dan barang siapa yang kafir kepada Allah, maka hewan ternak lebih rendah daripadanya.

Dan bagi mereka para penghina Agama dan NabiNya, tidak hanya lebih rendah dari binatang ternak, bahkan lebih rendah dan hina dari pada anjing, binatang yang najis. Kalau tidak mau bertobat maka tempat yang layak adalah neraka jahannam, Na’udzhubillah min dzalik.

Abah Muazar Habibi
Pengasuh Pesantren Lenterahati Islamic Boarding School

Tinggalkan Balasan