KISAH MUSA AS, PERAHU BOCOR, ULAMA DAN MUSLIM INDONESIA

KISAH MUSA AS, PERAHU BOCOR, ULAMA DAN MUSLIM INDONESIA

Dalam sebuah hikayat, Nabi Musa AS, pernah mengadu kepada Allah SWT, “Ya, Allah! Mengapa Engkau menghukum orang tidak berdosa hanya karena mereka hidup bersama di lingkungan orang-orang yang berbuat dosa.” Allah SWT tidak menjawab keluhan Nabi Musa AS tersebut.

Dengan perasaan kecewa dan sedikit kesal, Nabi Musa duduk di atas sebatang kayu lapuk. Tidak lama setelah duduk, tiba-tiba pantatnya digigit seekor semut. Ia marah. Kemudian, semut-semut yang berada di atas kayu tersebut diusirnya.

Nabi Musa AS marah kepada semua semut yang berada di sekitar batang kayu tersebut, padahal yang menggigit pantatnya hanya seekor semut. Hal tersebut dikarenakan semut yang berada di sekitarnya tidak peduli terhadap perbuatan buruk semut yang menggigit Nabi Musa.

Jawaban Allah SWT atas keluhan Nabi Musa mirip dengan perumpamaan penumpang perahu yang digambarkan Nabi Muhammad SAW. Beliau menggambarkan orang bermasyarakat, seperti penumpang perahu. Di antara penumpang itu ada yang iseng melubangi perahu, sementara penumpang lain diam, tidak peduli, dengan dalih itu bukan urusannya. Akibatnya, ketika perahu itu bocor, air masuk ke dalam, kemudian perahu tenggelam. Ketika perahu tenggelam yang celaka bukan hanya pembocor perahu, melainkan semua penumpang.

Secara lengkap perumpamaan itu dituturkan Rasulullah SAW, “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dengan orang yang melanggarnya seperti suatu kaum yang melakukan undian dalam sebuah kapal. Maka, sebagian (penumpang) berada di atas dan sebagian yang lain di bawah. Dan, penumpang bagian bawah jika akan mengambil air melewati penumpang yang di atas. Dan suatu saat berkata: Kalau kita lubangi kapal ini (untuk mengambil air), mungkin tidak mengganggu orang yang di atas. Jika mereka membiarkan saja orang yang melubangi kapal maka semuanya akan hancur, tetapi jika dilarang, maka mereka semua selamat.” (HR Bukhari).

Dua cerita di atas menggambarkan esensi amar makruf nahi mungkar. Jika pada satu lingkungan masyarakat terjadi kemungkaran, tapi dibiarkan oleh orang-orang baik dengan alasan bukan urusannya maka kalau lingkungan tersebut mendapat azab, imbasnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku kejahatan, tapi juga oleh semua orang yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, jika orang-orang baik itu memiliki kepedulian, kemudian melakukan pencegahan melalui tindak amar maruf nahi mungkar maka yang selamat tidak hanya pembuat kejahatan, tapi semua orang yang berada di sekitarnya.

Allah SWT mewanti-wanti melalui firman-Nya, “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” ( QS al-Taubah [8]: 25). Nabi SAW menguatkan ayat di atas melalui sabdanya, “Demi Zat yang diriku ada dalam genggaman kekuasan-Nya, sungguh hendaklah kalian memerintahkan yang makruf dan melarang kemungkaran atau sungguh Allah mempercepat kiriman siksaan terhadap kalian kemudian kalian memohon kepada-Nya, maka tidak diijabah bagi kalian.” (HR Tirmizi).

Jika kita tidak mau diazab dan doa ditolak oleh Allah SWT maka jangan biarkan perahu kehidupan dibocori oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Cegahlah perbuatan buruk mereka sebatas kemampuan kita melalui dakwah amar makruf nahi mungkar sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barangsiapa yang melihat kemungkaran di antaramu, maka hendaklah mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa maka dengan hatinya. Yang demikian itu (mengubah dengan hati) termasuk selemah-lemahnya iman.” ( HR Muslim).

MAKA, ironis cerita-cerita hikmah diatas benar-benar terjadi dan nyara di bumi pertiwi ini. Saat sebagian kecil kaum muslimin mencari figur yang mampu menegakkan amal ma’ruf nahi mungkar ada sebagian yang mengaku sebagai ummat Islam ikut melubangi dan mengembosi perahu kebenaran keadilan dengan sejuta dalih.

Saya melihat prespektif beberapa Ulama dan beberapa kalangan muslimin yang terus menerus menjadi incaran hukum secara diskriminatif dan tidak adil.

Artinya apa yang digambarkan Rasulullah tentang perahu yang dilubangi itu nyata dan inilah tanda-tanda akan ada kebangkitan periode 3 bagi kaum muslimin dan bersama-sama menghalau para pelubang peranu dan menembel perahu yang telah di rusak oleh orang-orang yang bukan hanya ingin menengelamkan NKRI tetapi juga mengembosi Islam sebagai falsalah kehidupan untuk muslimin.

Kita menyaksikan ada beberapa ulama dan habaib yang tak ingin NKRI dan Islam ini tengelam karena kelicikan, keserakahan, kedholiman dan ketimpangan sosial yang begitu nyata terus di cari kesalahannya dan bukan hanya ulama dan para alim namun kaum muslimin yang ingin menyuarakan kebenaran dan ingin keadilan pun banyak yang harus tiarap dan media sosial mereka dibelukan.

Sekarang pilihan ada di tangan kita, kita termasuk orang-orang yang mendukung para pelubang perahu, atau orang-orang lurus yang tak ingin kapal Islam di Indonesia ini tercabik-cabik dan tentu akan berimbas kepada keutuhan NKRI.

Paling tidak jika kita tak berani menyuarakan kebenaran dan membela Islam, tak perlu berada pada barisan orang-orang yang ingin menghancurkan Islam dan NKRI.

Semut saja punya nyali melawan api Namrud ketika ingin membantu menyelamatkan Api yang membakar Ibrahim, dari pada seperti cicak yang menjijikkan meniupkan hebusan nafasnya membela Namrud yang dholim. Bukan seberapa besar dukungan kita, tetapi Allah mencatat kita berada pada kaki kebenaran seperti semut Ibrahim atau cicak yang besekutu dengan Namrud!

Jika kita mendiamkan kemungkaran, maka suatu saat Allah memberikan adzab bahkan kepada kaum yang beriman yang tak berdosa karena mendiamkan kedholiman seperti tamsil yang ditanyakan Musa AS kepada Allah kenapa menghukum orang yang tak berdosa karena bersama-sama dengan orang yang bersalah!

Allahu a’lam bi showab.
Di tulis kembali oleh Abuya Muazar Habibi
Pengasuh Pesantren Lenterahati Islamic Boarding School

Tulisan ini saya rubah tidak menyebut inisial karena beberapa kali dengan tulisan ini viral, selain media sosial saya di bekukan juga ada intimidasi melalui jaringan pribadi.

Tinggalkan Balasan