Romantisme Keluarga Rasulullah

Romantisme Keluarga Rasulullah

Tidak ada cinta tanpa kasih sayang,
Tidak ada kasih sayang tanpa romantisme,
Kehangatan keluarga tercipta dari percikan-percikan indah berpadu kasih antar dua pasangan dalam nuansa romantisme.

Romantisme itu adalah bumbu terindah untuk menciptakan kelurga penuh pengertian dan penuh harapan menuju keluarga sakinah, mawaddah penuh rahmah.

Kita punya contoh keluarga paling romantis yaitu keluarga Rasulullah. Dengan berbagai cara Rasulullah ingin menunjukkan bahwa cinta itu bisa dipupuk mesra bersama romantisme.

Makan daging sepotong berdua.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum di gelas yang digunakan ‘Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit ‘Aisyah.(HR Muslim No. 300)

Kenapa Rasulullah memakan daging bekas gigitan Aisiyah. Inilah yang dinamakan romantisme kepercayaan itu, Rasulullah ingin menunjukkan pada Aisyiyah bahwa beliau tidak jijik dengan “bekas” gigitan Aisyiyah karena itu menunjukkan bahwa Rasulullah menaruh kepercayaan penuh. Beliau ingin mendidik istrinya bahwa sepenuh hati percaya ya karena bekas gigitan saja Rasulullah tidak jijik apalagi masakan dan buah tangan lainnya.

Ini cara Rasulullah mendidik saling percaya dalam keluarga, karena jika sudah ada ragu dalam keluarga, akhirnya adalah perselisihan.

Pada hadis yang lain diceritakan bahwa :

Dari Aisyah Ra, ia berkata: “Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haidh, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” (HR Abdurrozaq dan Said bin Manshur, dan riwayat lain yang senada dari Muslim.)

Artinya bahwa dari makan dan minum ini selain akan menumbuhkan kepercayaan juga menumbuhkan kebersamaan dari kebersamaan itu akan menjadi modal utama memadu kasih dalam nuansa romantisme.

Memijit hidung saat marah.

Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Aisya, bacalah do’a: “Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)

Tau kah Kita bahwa diantara sela-sela mata dan hidung itu terdapat pusat syarat ketegangan wajah, jika marah disitulah tempat utama wajah mengkerut. Untuk menetralkannya maka butuh pijat refleksi di sela-sela mata dan hidung, salah satu cara adalah memijat hidung.

Sekian itu hidung bagi seorang wanita adalah tempat sensitif untuk menumbuhkan syahwat dan kemesraan.

Itulah cara Rasulullah meredakan amarah Aisyiyah, tidak membalas kemarahan dengan kemarahan namun dibalas dengan romantisme pijat reflek agar amarah redah kemudian berlanjut pada kemesraan berdua.

Rasulullah juga bergurau bersama, di kala sedang dekat dengan istrinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ‘Aisyah dan Saudah pernah saling melumuri muka dengan makanan. Nabi SAW hanya tertawa melihat mereka. (HR Nasa’i dengan isnad hasan)

Kadang kala waktu kita sudah banyak tersita untuk bekerja sehingga jangankan mengajak istri untuk bercanda, mengajak jalan berdua saja seolah waktu tak tersedia.

Cara paling gampang untuk bercanda adalah mencolek istri, memujinya bahkan dengan sedikit nakal menggelitik bagian-bagian tubuhnya walau didepan anak-anak karena sekian mengajarkan bagaimana harus bersikap pada istri kelak bagi anak, bagi anak itu juga bagian yang ikut serta membahagiakan mereka.

Jadi untuk bergurau tak harus menjadi komedian didepan istri. Cukup kita bermanja pada dia, dia sudah tersipu malu dan tersenyum artinya itu sudah candaan ringan bagi dia.

Begitulah Rasulullah. Beliau dikenal bersikap lembut dan sayang pada istrinya. Beliau juga menyayangi dan mengistimewakan istrinya di kala istrinya sedang sakit.

Dari ‘Aisyah, ia mengatakan, beliau (Nabi) adalah orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. (HR Bukhari No 4750, HR Muslim No 2770)

Memang sudah watak laki-laki kurang mudah tersentuh narurinya bila melihat sesuatu pada istrinya.

Dianggap istri lebay dan cari perhatian, padahal bagi istri itulah keinginan dia untuk selalu dekat hati dengan suaminya.

Rengekan istri bahkan kalu kesah hari ini bukan menandakan istri adalah wanita lemah karena sesungguhnya Allah menciptakan mahluk yang paling kuat itu adalah wanita yang siap mengandung, mendidik, merawat anak-anak sampai merawat dan memperhatikan suami 24 jam penuh.

Rengekan dan keluh kesah istri adalah cara ia mencuri perhatian ingin beromantisria dengan suaminya yang seharian ini tak bisa bersama.

Maka jika suami tak bisa membalas kemesraan itu cukup lah perhatian dengan tatapan mata penuh kasih sayang dan parang mana yang ia sampaikan sakit atau lelah. Maka terbayar sudah keluh kesah istri dengan perhatian suami.

Alhasil, Islam banyak mengajarkan kita tentang kelembutan dan sikap sayang pada pasangan. Itulah sikap romantisme yang diajarkan Islam pada para suami terhadap para istri. Sebab Rasullah bersabda, sebaik-baik para suami, adalah mereka yang bisa bersikap baik terhadap istrinya.

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih).*

Ini pelajaran bagi saya karena saya juga belum semua belum bisa saya praktekkan sepenuhnya untuk istri tercinta.

Semoga bermanfaat

Abuya Muazar Habibi, Psikolog
Pengasuh Pesantren Lenterahati Islamic Boarding School

Tinggalkan Balasan