𝐒𝐄𝐊𝐎𝐋𝐀𝐇 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐈𝐀𝐒𝐀 𝐁𝐀𝐆𝐈 𝐀𝐍𝐀𝐊-𝐀𝐍𝐀𝐊 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐁𝐈𝐀𝐒𝐀

𝐒𝐄𝐊𝐎𝐋𝐀𝐇 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐈𝐀𝐒𝐀 𝐁𝐀𝐆𝐈 𝐀𝐍𝐀𝐊-𝐀𝐍𝐀𝐊 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐁𝐈𝐀𝐒𝐀.

𝑆𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑓𝑖𝑘𝑖𝑟, 𝑠𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑑𝑖𝑟𝑒𝑝𝑜𝑡𝑘𝑎𝑛. 𝐾𝑒𝑝𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑖𝑑𝑖𝑘 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑖𝑛𝑡𝑎𝑟, 𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑟𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑖𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑑𝑒𝑚𝑖𝑘. 𝐾𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑠𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑓𝑖𝑘𝑖𝑟 𝑖𝑡𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑑𝑖𝑏𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑔𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 ℎ𝑎𝑚𝑝𝑖𝑟 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 ℎ𝑎𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔𝑡𝑢𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑘𝑜𝑙𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎.

Saya pernah berfikir bahwa mendirikan sekolah dengan tiap tahun ajaran baru membludak pendaftarnya, antri harus tes masuk yang diterima adalah anak-anak hebat secara akademik dan kognitif serta sehat lahir dan batin agar sekolah ini menjadi sekolah favorit di NTB.

𝑁𝑎𝑚𝑢𝑛, 𝑘𝑒𝑚𝑢𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑛𝑢𝑛𝑔. 𝐵𝑎ℎ𝑤𝑎 𝑠𝑎𝑦𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑠𝑡𝑖𝑚𝑒𝑤𝑎 𝑏𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑢𝑙𝑢 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘 ℎ𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑟𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑔𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑘ℎ𝑢𝑠𝑢𝑠, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑠𝑎𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑔𝑢𝑚𝑎𝑚 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑡𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘𝑙𝑎ℎ 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑠𝑎𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑎ℎ𝑤𝑎 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑎𝑛𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑎 𝐾𝐻. 𝑀𝑎𝑠𝑙𝑖ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝐻𝑗. 𝑁𝑖𝑠𝑤𝑎𝑡𝑢𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑡𝑒𝑚𝑎𝑛-𝑡𝑒𝑚𝑎𝑛𝑚𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛.

Engkau dilahirkan dengan banyak kekurangan dibandingkan dengan teman-teman sebayamu. Saat dulu englau balita, dipotong talipusarmu, pendarahan tiada henti. Saat menginjak anak-anak saat teman-temanmu asik berlarian dan main sepak bola kadang saat engkau tiba-tiba terbentur dan memar pendarahan dalam, engkau hanya bisa menatap sedih teman-temanmu.

Engkaupun bisa membaca lancar baru menginjak kelas 5 SD, itupun belum bisa membedakan antara huruf a dan e, b dan d, f dan v. Bahkan saat masuk pesantren engkau masih belum bisa membedakan antara huruf ba dan nun, jim dan kha dan kho.

Baru tersadar bahwa saya adalah salah satu anak yang diamanahkan ke orangtua yang sangat sabar dengan banyak perbedaan. Saya mengidap Hemophilia sehingga harus terkontrol agar tidak pendarahan, saya juga baru tersadar lambat membaca karena mengalami disleksia dan diskalkulisia yang sulit membedakan huruf dan angka yang hampir sama.

Kesadaran itu memuncak sejak saya lulus SMA, saya terpacu bagaimana harus bisa menunjulkan bahwa dibalik sesuatu yang Allah berikan berbeda pada saya ada anugrah terindah.

Anugrah terindah pertama adalah, Allah menitipkan janin Muazar Habibi di rahim seorang ibu yang sabar luar biasa dan sesorang ayah yang sangat pengertian dan penuh kasih sayang, mereka tak pernah mengeluh walau sejak kecil hampir tiap waktu diuji anak laki-laki satu-satunya yang sakit terus menerus.

Anugrah kedua adalah, saya dimudahkan oleh Allah dalam setiap urusan pendidikan. S1 saya tempuh paling cepat dengan durasi lulus 3.5 tahun dengan IP. 3.85. S2 Psikologi (S2 pertama) saya tempuh hanya 16 bulan walau di luar negeri dengan bolak-balik pulang pergi dengan IP. 4 predikat Suma Cume Laude, S2 ke 2 di UPI Bandung mengambil kependidikan dan koseling anak, tepat 1 tahun lulus dengan IP. 4 predikat Cume Laude. S3, yang saya menyangka akan menghabiskan waktu bertahun-tahun, Allah memberikan kemudahan dengan lulus tepat 3 tahun kurang 2 bulan dengan IP 4 dan Nilai Disertai sempurna maka dapat predikat Suma Cum Laude walau harus saja jalani dalam kondisi ujian fisik dan mental yang luar biasa, namun Allah memberikan hadiah yang lebih dari pada apa yang saya fikirkan.

Yang tak kalah istinewanya adalah anugrah diberikan Allah istri yang sabar, pengertian dan anak-anak yang insyAllah quroral a’yun.

Inilah kenapa kemudian saya memuruskan membuat sekolah yang tidak biasa, semua siswa boleh masuk. Tanpa tes, tanpa perbedaan, tanpa diskriminasi dan tanpa mengistimewakan antara yang satu dengan lainnya.

Saya punya azzam bahwa lembaga pendidikan harus mampu menciptakan iklim yang sehat dan bisa menerima perbedaan dan menjadikan anak-anak hebat dengan semua bakat, minat dan potensi yang mereka miliki walau berbeda.

Maka, ketika kita diamanahkan sebagai orangtua yang pertama kita lakukan adalah menerima apapun kondisi anak tanpa harus membedakan antara satu dengan lainnya.

Kedua, setiap anak diciptakan istimewa maka hendaknya orangtua tidak membiasakan diri untuk membandingkan dengan siapapun karena masing-masing anak tercipta dengan keistimewaan masing-masing yang tak akan pernah sama satu dengan lainnya.

Ketiga, ketika orangtua memilih sekolah untuk anak-anaknya yang perlu diperhatikan bukan hanya kualitas sekolah tersebut tetapi juga bagaimana sekolah dapat menjadi tempat yang nyaman bagi semua pengembangan potensi anak.

Keempat, orantua tidak bisa memasrahkan begitu saja pendidikan pada lembaga pendidikan namun orang tua harus kooperatif dalam semua kegiatan yang melibatkan antara anak, orang tua, guru dan lembaga pendidikan sehingga terjamin komunikasi yang harmonis dan anak bisa berkembang sesuai potensinya karena orantua koopetaif dalam sistem pembelajaran yang ada di lembaga tersebut.

Semoga bermanfaat.

𝘼𝙗𝙪𝙮𝙖 𝙈𝙪𝙖𝙯𝙖𝙧 𝙃𝙖𝙗𝙞𝙗𝙞
𝙋𝙚𝙣𝙜𝙖𝙨𝙪𝙝 𝙋𝙚𝙨𝙖𝙣𝙩𝙧𝙚𝙣 𝙇𝙀𝙉𝙏𝙀𝙍𝘼𝙃𝘼𝙏𝙄 𝙄𝙨𝙡𝙖𝙢𝙞𝙘 𝘽𝙤𝙖𝙧𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙎𝙘𝙝𝙤𝙤𝙡 𝙉𝙪𝙨𝙖 𝙏𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖 𝘽𝙖𝙧𝙖𝙩

Tinggalkan Balasan